My Story

Virtual Diary

Creative Blog

Deteksi Dini Demensia Alzheimer dan Obati Pikun

by - September 20, 2020


DETEKSI DINI DEMENSIA ALZHEIMER DAN OBATI PIKUN. Berbekal film "Away From Her" yang masih teringat, film ini mengambil topik Alzheimer, mampu menguras air mata saya beberapa waktu lalu. Bagaimana cinta sejati serta perjuangan seorang suami paruh baya terhadap istrinya sebagai ODD (Orang Dalam Demensia) untuk berusaha membuka kenangan manis yang telah dijalani mereka berdua. 


Alzheimer tidak hanya membuat sedih penderita, namun seluruh keluarga, kebahagiaan dan kenangan seolah hilang karena gangguan sel-sel saraf. Penyakit otak ini mengakibatkan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir dan bicara, serta perubahan perilaku secara bertahap. Penyakit Alzheimer adalah penyebab paling umum dari demensia. Demensia terjadi ketika otak mengalami kerusakan karena penyakit seperti penyakit Alzheimer atau pun serangkaian stroke.




Flashback kisah lalu saat enyang (nenek) masih hidup yang menghabiskan masa tuanya dengan tinggal bersama saya, saya merasakan bagaimana perilakunya berubah kembali seperti anak-anak saat berumur 65 tahun, gampang lupa. Paradigma masyarakat kita kerap menganggap bahwa hal ini adalah biasa. Memang butuh effort besar untuk mampu mengubah paradigma yang terlanjur melekat di masyarakat, sedikit sulit, namun bukan berarti tidak bisa diubah. Bahkan tidak menutup kemungkinan seseorang didiagnosis Alzheimer sebelum berusia 60 tahun. Fenomena ini biasa disebut Young Onset Demensia (YOD) atau Early Onset Demensia (EOD). Kenyataannya ODD termuda ada di Inggris berusia 23 tahun dengan diagnosis Parkinson Demensia yang juga berhubungan dengan genetik dari ibu. 



Dengan mengikuti webinar dalam rangka "Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia"

PT Eisai Indonesia (PTEI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) mengadakan Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia, Minggu (20/9). Festival ini merupakan bagian dari program kampanye edukatif Obati Pikun yang diikuti oleh dokter spesialis saraf, dokter umum, dokter seminat serta masyarakat awam. Festival dibuka secara virtual oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Siti Khalimah, Sp.KJ, MARS, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) PERDOSSI, DR. dr. Dodik Tugasworo P, SpS(K), dan Presiden Director PT Eisai Indonesia (PTEI), dr. Iskandar Linardi. 


Pada kesempatan ini sekaligus melakukan kampanye Obati Pikun dengan membuat pendeteksian dini melalui aplikasi E-MS (E-Memory Screening) setidaknya dapat menjadi roda penggerak sebagai bahan edukasi kepada masyarakat. Sedangkan tugas kitalah yang meneruskannya kepada banyak orang di sekitar kita sebagai penyumbang kepedulian.


Aplikasi EMS karya anak bangsa ini dapat kalian download melalui playstore secara gratis. Sehingga dapat kalian gunakan sebagai alat skrining pendeteksian dini Demensia. Di sana tersedia juga artikel bermanfaat dan terpercaya, serta informasi terkait Rumah Sakit yang memiliki klinik memori dan dokter spesialis neurologis yang praktek dalam radius 50km dari lokasi kalian. EMS ini juga menjadi bagian edukasi digital bagi masyarakat umum untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penyakit Demensia ini. 


Alzheimer dan demensia sesungguhnya adalah masalah kompleks karena terkait banyak hal, perihal kesehatan, sosial, dll. Oleh karenanya diperlukan adanya kerjasama dari berbagai pihak untuk meningkatkan awareness dengan stakeholder-stakeholder terkait agar mampu memperlambat lajunya produktivitas demensia di negara kita. 


Peningkatan demensia makin merisaukan, tahun ini sekitar 1,2 juta orang masyarakat penderita alzheimer dan demensia. Menurut survei ke depan akan adanya peningkatan sekitar 2x lipat di tahun 2030 dan di tahun 2050 bisa meningkat sekitar 4x lipat jumlahnya. 


Edukasi inilah yang diharapkan mampu menebas lajunya peningkatan penyakit Alzheimer. Harus adanya kerjasama saling menyambut tangan, menanggulangi hal ini, agar tumbuh rasa kepedulian terhadap Alzheimer. 


Ketika kita menyadari ada gejala atau penderita Demensia dan Alzheimer jangan hanya diisukan dari mulut ke mulut, namun pola pikir harus diubah untuk mengedukasi agar dapat diobati dengan cepat dan tepat. Tata kelola kata dalam hal ini juga sangat diperlukan untuk menggaungkan hal ini sehingga masuk tepat ke hati masyarakat. Dengan begitu, kita mampu meningkatkan pemahaman dalam perawatan dan pendampingan ODD (Orang Dalam Demensia), terlebih keluarga ODD, serta perlunya edukasi mengenai pemahaman terkait hal ini tentang bagaimana menavigasi hidupnya. 


Ada beberapa point penting yang saya tangkap mengenai komunikasi gaya baru jika anggota keluarga termasuk ODD

1. Terapi musik, setel musik-musik yang disuka dan menenangkan

2. Adanya interaksi dengan anak bungsu

3. Berinteraksi dengan binatang piaraan

4. Menggali bakat tersembunyi

5. Perhatian dari seseorang tercinta


Pencegahan Penyakit Alzheimer


Penyakit Alzheimer bisa dicegah dengan beberapa cara, semisal;


-Edukasi. Menurut studi baru yang diterbitkan dalam Neuroepidemiology menganalisis hasil dari tes memori lebih dari 11.000 orang usia lanjut di Eropa. Studi tersebut menemukan bahwa orang berpendidikan tinggi tidak rentan terkena demensia.

-Berhenti merokok

-Menjaga berat badan tetap ideal

-Mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang

-Rutin berolahraga

-Melatih permainan otak


Penyakit ini jangan dianggap enteng sebagai hal yang lumrah, karena gangguan otak ini kelak mengakibatkan hilangnya kemampuan intelektual dan sosial seseorang, sehingga tergolong sebagai penyakit progresif yang mengganggu fungsi mental seseorang, seperti memori dan perilaku.


Faktor Risiko Alzheimer


Beberapa hal yang meningkatkan risiko seseorang alami Alzheimer antara lain:


  • Usia lebih dari 60 tahun.
  • Riwayat keluarga dan genetik.
  • Sindrom Down.
  • Perempuan.
  • Gangguan kognitif ringan.
  • Riwayat trauma kepala seperti adanya benturan di kepala akibat kecelakaan
  • Gaya hidup dan kesehatan jantung.
  • Obesitas.


Memiliki keluarga dengan penderita demensia tentu perlu perhatian khusus, hal tersebut mungkin menimbulkan stres keluarga penderita demensia itu sendiri.


Strategi dan Tips Hidup dengan ODD di Masa Pandemi COVID-19

1. Interaksi dengan orang lain

2. Interaksi dengan ODD


Beberapa tips untuk menghindari stres berlebih bagi keluarga yang mempunyai anggota keluarga pengidap demensia: 


-Mendapatkan bantuan orang lain untuk bergantian dalam melayani anggota keluarga dengan demensia.

-Meluangkan waktu untuk olahraga dengan rutin

-Menjalankan kegiatan-kegiatan untuk mengurangi stres, seperti meditasi, latihan pernapasan, dan pijat

-Menjaga pola makan yang sehat dan teratur

-Memastikan istirahat dan tidur yang mencukupi


Edukasi dan Hubungan dengan Keluarga Mampu Cegah Demensia


Saya pernah membaca salah satu jurnal mengenai sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa ketika seseorang lebih sering memanfaatkan otaknya untuk melanjutkan pendidikan, belajar bahasa, belajar alat musik, dan menjaga hubungan dengan keluarga dan teman-temannya cenderung memiliki risiko rendah untuk terkena demensia. Dalam hal ini kita tidak bisa hanya melihat dari faktor individu saja namun dilihat juga dari kombinasi faktor; seperti olahraga, diet sehat, memiliki kontak dengan teman-teman dan kerabat. Itulah mungkin sebabnya kita sebagai makhluk sosial yang membutuhkan keterikatan dan butuh bantuan orang lain, sebab dengan seringnya berinteraksi dengan banyak orang jadi salah satu faktor mencegah demensia. 


Berikanlah penghormatan, tumbuhkan rasa cinta bagi penderita secara ikhlas, bahwa cinta yang baik, lahir dan tumbuh tak terbatas sekat ingatan yang terlupakan. Tanamkan dalam diri, bahwa rasa sayang akan meningkatkan kebahagiaan untuk mensyukuri nikmat atas apa yang telah digariskan dalam hidup.


Jangan remehkan pikun, deteksi dini dan obati. Semoga kita semua selalu diberikan keberkahan atas nikmat sehat selama ini.



You May Also Like

17 komentar

  1. kalau denger kata Alzheimer, langsung keingat deh sama salah satu film korea favorite ku judulnya a moment to remember. dan tulisan ini makin nambah wawasanu ttg penyakit ini. nanti aku nonton film away from her nya deh mba.

    BalasHapus
  2. Deket rumah malah ada ibu yang belum tua banget sudah menderita demensia mba.. sayangnya keluarga merasa ini maklum saja semenjak suaminya meninggal. Rasanya pengen menyarankan mereka untuk deteksi si ibu melalui aplikasi EMS

    BalasHapus
  3. Wanita termasuk faktor risiko terkena Alzheimer. Mesti waspada nih.

    BalasHapus
  4. Aplikasinya keren ya, jadi kita bisa mendeteksi sejak dini. Oya, karena anak bangsa juga ya?

    BalasHapus
  5. Wah iya ya, alzheimer ternyata bisa di cegah ya..btw keren juga ni aplikasinya...

    BalasHapus
  6. Iya ya, pikun itu jangan dibiarkan. Kalo lama-lama bisa jadi alzheimer. Duh, aku pelupa nih, memang gak pikun sih. Kudu mulai banyak stimulasi deh biar gak jadi pikun. Jadi kepengen nyoba juga aplikasinya.

    BalasHapus
  7. Iya nih aku juga sering nonton film dan drakor tentang Dimensia ini, jadi khawatir juga, harus punya aplikasinya nih setidaknya bisa meminimalisir dampak Dimensia ini.

    BalasHapus
  8. Dengan aplikasi EMS kita bisa memperkirakan masuk kategori harus segera periksa dokter ahli atau tidak ya. Alhamdulillah saya coba, hasilnya masih lumayan, aman, ga sampai harys segera konsultasi ke dr. s(K) hehehe

    BalasHapus
  9. Aku pernah ada saudara yang pikun. Tapi usianya memang sudah 90 tahun kala itu\. Pas usia 80 tahun sudah semakin pikun. Sosialisasi ini penting untuk disampaikan mba

    BalasHapus
  10. huaa perempuan lebih beresiko ya.. apa karena sering overthinking dan sering multitasking? wkwk makasi infonya ya, mbak. ini bermanfaat banget terutama buat kita yg masih muda dan punya ortu yang sudah sepuh

    BalasHapus
  11. Musik dapat bermanfaat baik untuk otak ya, bisa disetel lagu yang disukai atau muratal quran.

    BalasHapus
  12. Suamiku parah bgt pelupanya mba, jadang hal yg baru diomongin aja bulang lupa.. ya allah

    Ini bisa termasuk gejala alzaimer gak sih, khawatir aku jadinya

    BalasHapus
  13. Pas banget nih, sama kondisi papaku yg udah mulai pikun gara2 stroke yang beliau alami sampai saat ini. Btw, rangkumannya berguna banget nih, khususnya buat para caregivers kayak aku, hehe

    BalasHapus
  14. Saya kira demensia atau penyakit pikun ini cuma dialami kakek nenek ternyata bisa juga menyerang orang yang masih muda ya. Btw thanks informasinya, bermanfaat sekali nih.

    BalasHapus
  15. Ternyata perempuan ya lebih beresiko terkena, smg kita dan keluarga kita selalu dilindungi. Kl bisa diatasi sedini mungkin akan lebih baik

    BalasHapus
  16. Langsung ikut deteksi dini kepikunan, semoga kita terjauh dari pikun ya, mulai sekarang kenali gejalanya dan terus latihan supaya ga pikun.

    BalasHapus
  17. Mau tau nih mba hubungan penderita demensia dengan anak bungsu, apakah bisa meringankan demensia ini? Soalnya ada saudara juga yang kena, siapa tau bisa membantu

    BalasHapus